Penawaran Ala KFC

Coba anda ingat sewaktu membeli makanan di KFC, pasti anda akan diteter beberapa pertanyaan apakah anda akan membeli makanan lain yang berhubungan dengan makanan yang telah anda beli tersebut. Sebagai contoh, saat anda membeli ayam dan nasi, pasti pelayan KFC akan menanyakan kebutuhan yang berhubungan dengan ayam dan nasi itu. Pelayan pasti akan menawarkan minuman atau makanan kecil lain, atau pelengkap dari jenis makanan yang anda beli. Saya sendiri sering merasakan, secara spontan saya akan mengiyakan apa yang pelayan KFC tawarkan. Karena sebetulnya apa yang mereka tawarkan adalah yang saya butuhkan.

Dalam sebuah buku saya juga pernah membaca kritikan terhadap sebuah rumah makan yang menerapkan cara penawaran ala KFC ini. Dalam buku tersebut menceritakan sampai-sampai penulis tidak sempat berkata-kata karena saking bingungnya dengan penawaran yang bertubi-tubi oleh pelayan rumah makan. Penulis merasa sangat terganggu dengan ulah pelayanan yang selalu menawarkan makanan lain. Malahan penulis merasa jengkel karena dengan terus-menerus menawarkan, menjadikan keasyikan memilih makanan yang dia rasakan jadi hilang. Bayangkan, siapa yang tidak bingung kalau saat memilih makanan yang akan dimakan, kita dikeroyok oleh 3 orang wanita sekaligus yang dengan genit menawarkan ini dan itu tanpa memperhitungkan sesuai apa tidak dengan makanan awal yang dipesan.

Dari dua hal di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa pengetahuan yang detail tentang jenis makanan dan perpaduan yang sesuai antara satu jenis dengan jenis yang lain sangat penting bagi seorang pelayanan. Dengan kemampuan memberikan pilihan terbaik bagi pembeli, pasti pelayanan dipandang bukan sebagai pengganggu saat menawarkan menu pelengkap yang lain. Bahkan pembeli secara tidak sadar akan ikut apa yang ditawarkan dan penjualan akan semakin banyak. Penjualan ala KFC ini juga sukses beberapa kali saya terapkan pada pelanggan komputer saya. Dengan kemampuan memposisikan diri kita sebagai seorang penjual sekaligus sebagai pemberi saran untuk kebaikan pelanggan, pasti keutungan berlipat akan dengan mudah kita raih.

Sukses untuk anda…..

Harland, Sang Penemu Resep Kentucky Fried Chicken

Berkat kepiawaiannya memasak serta bereksperimen dengan berbagai bumbu dan masakah, Harland bisa menghasilkan sebuah makanan yang sangat kezat. Salah satu eksperimen yang sukses yaitu ditemukannya campuran sebelas tanaman bumbu dan rempah-rempah yang terbentuk untuk melapisi ayam gorengnya yang saat ini terkenal sebagai resep rahasia Kentucky Fried Chicken.

Menyadari kelebihan serta keunikan masakannya, Harland beserta istrinya memulai perjalanan berkeliling mengunjungi restoran-restoran untuk menawarkan resep ayam gorengnya. Sudah banyak biaya dan tenaga yang harus dia habiskan untuk menawarkan produknya tersebut tetapi dia tidak berputus asa.

Sudah banyak restoran yang mau membeli hak patennya tetapi Harland belum merasa puas. Harland berserta istrinya terus menawarkan ke beragai penjuru negeri agar hak paten ayam gorengnya semakin terkenal.

Perjuangan itu akhirnya membawa hasil setelah sekitar 8 tahun kemudian sudah sekitar 600 restoran di Amerika Serikat yang menggunakan resep ayam gorengnya. Genap empat tahun kemudian hak paten Kentucky dibeli oleh Pepsi seharga 840 juta dolar Amerika pada tahun 1986. Kini, saya yakin semua orang di seluruh penjuru dunia sudah tidak asing lagi dengan “Kentucky Fried Chicken”.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Harland ini adalah tentang pentingnya hak paten dan kegigihan kita untuk mengenalkan pada konsumen produk yang dihasilkan. Selezat apa pun masakan yang dihasilkan pasti tidak akan banyak diketahui orang jika kita tidak membuat strategi pemasaran yang bagus. Hak paten jelas kita butuhkan agar karya kita atau sesuatu yang kita hasilkan tersebut tidak bisa dicuri atau ditiru orang lain. Jelas ini akan sangat menguntungkan dari segi bisnis dan kekuatan hukum.