Jenis Rejeki Bagi Manusia

Saya punya teman, dengan semangat membara karena ingin mendapatkan modal usaha yang besar dia bertekad untuk pergi merantau ke luar negeri. Hal ini didasari pengalaman beberapa teman yang dia kenal setelah pulang dari luar negeri mereka pulang dengan membawa uang banyak dan bisa dipakai sebagai modal usaha. Semua persiapan sudah matang, tinggal menunggu keberangkatan, tiba-tiba ada satu hal yang membuat dia tidak bisa berangkat.

Teman saya kecewa berat jadinya. Tapi apa mau dikata, semua diluar kemampuan dia. Untungnya teman saya berfikir jernih sehingga dia tidak sampai stres memikirkan batalnya keberangkatan dia ke luar negeri walaupun uang sudah melayang. Dia tetap berbaik sangka dan menerima kebatalan tersebut. “Mungkin bukan rejeki saya untuk bisa berangkat dan mendapatkan gaji besar, mungkin Allah mempunyai rencana yang lain”, Guman teman saya.

Kisah teman saya mengingatkan saya pada buku karangan Ustad Yusuf Mansyur yang saya baca beberapa waktu yang lalu. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa sebenarnya rejeki manusia ada dua macam. Dua macam itu adalah rejeki yang memang sudah digariskan dan rejeki yang menggantung di langit. Rejeki yang sudah digariskan yaitu rejeki yang memang sudah diperuntukkan bagi kita, walau tanpa berusaha sekalipun pasti kita akan mendapatkannya. Sedangkan rejeki yang menggantung di langit yaitu rejeki yang akan bisa kita dapatkan jika kita mau berusaha untuk mendapatkannya. Kita harus mau berkorban untuk bisa mendapatkannya. Berapa banyak rejeki menggantung di langit bagi kita hanya Allah yang tahu.

Rejeki yang sudah digariskan saya rasakan sendiri beberapa tahun yang lalu. Sekitar 2 tahun yang lalu saya pernah mendapatkan tawaran untuk membuat software di sebuah perusahaan besar. Saya sudah bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan dan sudah menyatakan persetujuan secara lisan. Berhubung sangat banyaknya proyek saya waktu itu, menjadikan tawaran di perusahaan itu menjadi prioritas terakhir. Akibat molornya penyelesaian proyek sebelumnya menjadikan “start” pengerjaan di perusahaan tersebut semakin lama, sampai satu bulan lebih.

Dari pada saya tidak enak, saya berniat untuk membatalkan saja kesanggupan penawaran tadi. Beberapa kali saya datang ke kantor perusahaan tersebut selalu tidak bertemu dengan pimpinan perusahaan.Tanpa terasa 3 bulan berlalu tanpa kejelasan karena saya selalu tidak bisa ketemu dengan pimpinan tadi. Dalam fikiran saya waktu itu mengira pasti sang pimpinan sudah mendapatkan programer lain untuk keperluan perusahaannya, karena sewaktu bertemu dengan saya dia mengatakan bahwa dia butuh program itu secepatnya.

Dalam hati saya mengatakan mungkin honor pembuatan software di perusahaan ini bukan rejeki saya. Suatu ketika saya bertemu dengan pimpinan itu secara tidak sengaja, secepat kilat saya mau mengungkapkan permintaan maaf karena tidak ada kejelasan selama ini. Tapi sebelum saya mengucapkan permintaan maaf, tanpa saya duga sang pimpinan tadi malah mengucapkan permintaan maaf dahulu karena selama ini dia sangat sibuk sehingga melupakan urusan pemesanan program dengan saya. Akhirnya besoknya saya membuat janji untuk ketemu di kantor dia dan saya langsung memulai pembuatan software tersebut. Walaupun saya sudah menyerah, ternyata rejeki dari pengerjaan software itu datang juga pada saya. Mungkin itu yang dinamakan rejeki yang memang sudah digariskan bagi saya.

Semoga pengalaman saya dan teman saya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus senantiasa berusaha dan tidak berputus asa dalam meraih rejeki sebanyak-banyaknya di kehidupan kita. Jika kita menemui kegagalan, hendaknya selalu berbaik sangka pada Allah. Mungkin memang hanya sampai di situ rejeki kita. Jika kita selalu meraih kesuksesan janganlah menjadi sombong dan melupakan siapa sebenarnya pemilik semua nikmat yang kita rasakan. Selalu bersyukur atas rejeki yang kita dapatkan merupakan salah satu kunci untuk bisa menikmatinya.

Sukses untuk anda…..

Page 1 of 11