Sang juragan ini adalah teman baik saya. Karena suatu hal, kini keadaannya bertolak belakang dari keadaan saat masih menjadi juragan dulu. Kini dia tidak lagi punya rumah, bahkan kendaraan pun dia tidak punya. Untuk bisa bepergian dia dan keluarganya mengandalkan pinjaman sepeda motor temannya.

Kisah ini hampir sama dengan kisah hikmah yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu, tetapi ada beberapa perbedaan mendasar. Jika ibu direktur yang kaya raya saat menjadi miskin tidak ada yang mau membantu, sang juragan ini saat jatuh miskin justru banyak yang bersimpati.

Sebelum meneruskan kisah sang juragan ini, saya ingin menceritakan bagaimana kebaikan beliau saat masih jaya dulu. Dulu, setiap kali saya berkunjung ke rumah beliau saya selalu dijamu dengan baik. Saya selalu diberi suguhan makanan dan minuman yang lezat, bahkan tak jarang saya selalu diajak makan bersama. Ini tidak berlaku bagi saya saja, ini berlaku bagi semua teman-teman atau tamu yang berkunjung ke rumah beliau.

Dia memang orang yang suka memberi dan membantu bagi siapa saja yang membutuhkan. Dia adalah orang yang tidak pelit, memberi hidangan terbaik bagi tamu-tamunya adalah salah satu contoh yang saya rasakan langsung.

Lama tidak bertemu bahkan hampir 2 tahun lamanya, saya bertemu dengan beliau beberapa bulan yang lalu. Sebagai seorang teman saya ikut bersedih pada apa yang menimpa dia. Cerita penderitaan dia selama dalam masa kebangkrutan tidak saya dapatkan dari sang juragan, tapi dari teman saya yang lain.

Rumah, kendaraan, termasuk bisnisnya seakan hilang begitu saja. Kini dia memulai bisnis kecl-kecilan bersama seorang teman yang menolongnya. Bahkan rumah kontrakan yang sekarang ditempati pun juga dari pertolongan teman yang lain. Untuk keperluan bepergian dia dan keluarganya seorang teman yang lain lagi rela meminjamkan sepeda motornya kapan pun dia inginkan.

Inilah inti dari kisah yang saya ceritakan ini. Sang juragan tidak pernah meminta bantuan pada siapa pun, tapi bantuan datang bagai air hujan yang membasahi bumi saat sang juragan ini membutuhkan bantuan. Teman-temannya dengan suka rela memberikan apa yang dibutuhkan sang juragan saat dalam kesusahan. Sekali lagi, bantuan ini tanpa diminta karena sang juragan tidak pernah menceritakan penderitaannya pada teman-temannya.

Menceritakan kisah sang juragan ini, saya jadi ingat kata-kata hikmah yang pernah saya baca. Jadilah selalu dewa penolong bagi banyak orang, karena saat kita membutuhkan pertolongan dan bantuan pasti akan mudah bertemu dewa penolong bagi diri kita. Tebarkan selalu kebaikan, karena kebaikan itu akan menghampiri kita setiap saat. Kata-kata hikmah ini telah terbukti secara nyata di depan mata saya, yang terjadi pada sang juragan ini.

Semoga kisah ini membawa manfaat bagi kita semua. Teruslah menebar kebaikan, jadilah selalu dewa penolong bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan.

Sukses untuk anda…..