Baru beberapa hari yang lalu saya membaca di sebuah surat kabar tentang modus penipuan baru yang dilakukan lewat telepon, eh…kemarin siang mengalami sendiri. Modus penipuan ini membidik orang-orang yang memasang iklan properti di media massa.

Modus yang saya baca dikoran seperti ini:
Si penelepon berlagak berminat dengan rumah yang dijual, kemudian akan mentransfer uang muka. Nah, setelah itu dengan berlagak seolah telah mentransfer, si penelepon menanyakan pada korban tentang uangnya yang baru ditransfer. Karena di rekening korban tidak ada uang masuk, si penelepon akhirnya berusaha meminta nomor PIN ATM dan beberapa data lain dengan alasan ingin mengecek sendiri secara online karena tidak percaya dan menuduh korban berbohong kalau uangnya tidak masuk. Setelah itu si penelepon menyuruh korban pergi ke ATM untuk melakukan instruksi dari dia, setelah semua instruksi itu dilakukan…viola…berpindahl ah uang kita ke rekening si penelepon.

Ini adalah modus yang menimpa seorang ibu yang saya baca di koran. Uangnya puluhan juta telah masuk ke rekening si penelepon. Untunglah sang ibu tanggap dan segera melaporkan ke bank. Akibatnya si penelepon tidak bisa mengambil uangnya karena telah diblokir oleh bank.

Kejadian yang menimpa saya seperti ini:
Siang kemarin ada seorang bapak yang menelepon saya tentang info rumah yang saya iklankan. Dia menyatakan sangat berminat dengan rumah yang saya iklankan.

Dengan berbagai dalih, penelepon tadi meminta berbicara langsung dengan pemilik rumah. Karena kebetulan pemilik rumah adalah teman akrab saya sendiri. akhirnya saya berikan saja nomor teleponnya pada bapak itu. Selang 30 menit kemudian teman saya menelepon bahwa rumahnya telah terjual pada bapak tadi.

Setelah saya tanya lebih rinci pada teman saya, akhirnya saya berkesimpulan bahwa ini adalah modus penipuan seperti yang saya baca di koran itu. Coba anda bayangkan, bapak tadi belum pernah melihat rumahnya, belum pernah ketemu muka, tapi mau memberi tanda jadi sebesar 10 juta. Selama 8 tahun saya menggeluti bisnis broker properti, baru kali ini saya tahu seperti ini. Saat itulah dia saya peringatkan tentang modus penipuan yang baru saya baca di koran itu.

Selang 1 jam kemudian teman saya menelepon lagi kalau bapak tadi melakukan persis seperti yang saya ceritakan di koran. Dia berlagak telah mentransfer dan marah-marah saat teman saya mengatakan uangnya belum masuk ke rekeningnya. Dengan menuduh teman saya telah berbohong, bapak tadi meminta data-data bank teman saya. Untunglah dia telah saya peringatkan sebelumnya sehingga tidak sampai memberikan data penting atau instruksi yang disuruh oleh penelepon tadi.

Dari kejadian ini, saya ingin berbagi pada anda semua. Hendaklah selalu hati-hati dalam setiap bertransaksi. Jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal atau bahkan belum pernah bertemu muka saat bertransaksi. Jangan pernah memberikan data bank anda pada siapa pun, dengan alasan apa pun. Karena dengan kecanggihan teknologi, uang kita bisa dicuri oleh orang lain dari tempat yang jauh sekali pun.

Seandainya anda mengalami hal ini, hendaklah seperti ibu yang saya baca di koran itu. Segera melaporlah ke bank bersangkutan untuk membekukan sementara rekening penipu, agar uang anda tidak bisa diambil. Simpanlah selalu nomor telepon layanan 24 jam bank anda. Untuk jaga-jaga seandainya mengalami hal seperti ini.

Semoga artikel ini bermanfaat, tetaplah waspada, sukses untuk anda…..

Baru beberapa hari yang lalu saya membaca di sebuah surat kabar tentang modus penipuan baru yang

dilakukan lewat telepon, eh…kemarin siang mengalami sendiri. Modus penipuan ini membidik orang-orang

yang memasang iklan properti di media massa.

Modus yang saya baca dikoran seperti ini:
Si penelepon berlagak berminat dengan rumah yang dijual, kemudian akan mentransfer uang muka. Nah,

setelah itu dengan berlagak seolah telah mentransfer, si penelepon menanyakan pada korban tentang

uangnya yang baru ditransfer. Karena di rekening korban tidak ada uang masuk, si penelepon akhirnya

berusaha meminta nomor PIN ATM dan beberapa data lain dengan alasan ingin mengecek sendiri secara online

karena tidak percaya dan menuduh korban berbohong kalau uangnya tidak masuk. Setelah semua data

diberikan…viola…berpindahlah uang kita ke rekening si penelepon.

Ini adalah modus yang menimpa seorang ibu yang saya baca di koran. Uangnya puluhan juta telah masuk ke

rekening si penelepon. Untunglah sang ibu tanggap dan segera melaporkan ke bank. Akibatnya si penelepon

tidak bisa mengambil uangnya karena telah diblokir oleh bank.

Kejadian yang menimpa saya seperti ini:
Siang kemarin ada seorang bapak yang menelepon saya tentang info rumah yang saya iklankan. Dia

menyatakan sangat berminat dengan rumah yang saya iklankan.

Dengan berbagai dalih, penelepon tadi meminta berbicara langsung dengan pemilik rumah. Karena kebetulan

pemilik rumah adalah teman akrab saya sendiri. akhirnya saya berikan saja nomor teleponnya pada bapak

itu. Selang 30 menit kemudian teman saya menelepon bahwa rumahnya telah terjual pada bapak tadi.

Setelah saya tanya lebih rinci pada teman saya, akhirnya saya berkesimpulan bahwa ini adalah modus

penipuan seperti yang saya baca di koran itu. Coba anda bayangkan, bapak tadi belum pernah melihat

rumahnya, belum pernah ketemu muka, tapi mau memberi tanda jadi sebesar 10 juta. Selama 8 tahun saya

menggeluti bisnis broker properti, baru kali ini saya tahu seperti ini. Saat itulah dia saya peringatkan

tentang modus penipuan yang baru saya baca di koran itu.

Selang 1 jam kemudian teman saya menelepon lagi kalau bapak tadi melakukan persis seperti yang saya

ceritakan di koran. Dia berlagak telah mentransfer dan marah-marah saat teman saya mengatakan uangnya

belum masuk ke rekeningnya. Dengan menuduh teman saya telah berbohong, bapak tadi meminta data-data bank

teman saya. Untunglah dia telah saya peringatkan sebelumnya sehingga tidak sampai memberikan data

penting atau instruksi yang disuruh oleh penelepon tadi.

Dari kejadian ini, saya ingin berbagi pada anda semua. Hendaklah selalu hati-hati dalam setiap

bertransaksi. Jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal atau bahkan belum pernah bertemu muka

saat bertransaksi. Jangan pernah memberikan data bank anda pada siapa pun, dengan alasan apa pun. Karena

dengan kecanggihan teknologi, uang kita bisa dicuri oleh orang lain dari tempat yang jauh sekali pun.

Seandainya anda mengalami hal ini, hendaklah seperti ibu di koran yang saya baca di koran. Segera

melaporlah ke bank bersangkutan untuk membekukan sementara rekening penipu, agar uang anda tidak bisa

diambil. Simpanlah selalu nomor telepon layanan 24 jam bank anda. Untuk jaga-jaga seandainya mengalami

hal seperti ini.

Semoga artikel ini bermanfaat, tetaplah waspada, sukses untuk anda…..