Ini kisah nyata yang dialami teman bekas guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.
Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan bekas guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.
Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.
Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.
Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.
Sukses untuk anda…..
Tags: keajaiban sedekah, sedekah

April 22nd, 2009 at 00:57
subhanallah…
janji tuhan PASTi ditepati
Yang tpenting saat ini, kita harus YAKiN dlam melakukan stiap amal ibadah akan berdampak pada keberkahan hidup, ketenangan batin n berlimpahnya rizki
[Reply]
April 22nd, 2009 at 02:10
tertegun saya membacanya… bener-bener keputusan yang berani. hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.
[Reply]
April 24th, 2009 at 18:26
kita membutuhkan keberanian untuk mendapatkan keinginan. keputusan yang diambil oleh ke 2 pasangan itu adalah langkah yang diluar kebiasaan kita bukan sesuatu yang luar biasa.
[Reply]
May 22nd, 2009 at 16:48
wah, saya senang membaca motivasi bisnis antum utamanya yang berkaitan dengan kisah – kisah nyata seperti ini
[Reply]
June 29th, 2009 at 23:28
perasaan sangat dekat dengan Allah,Amin.
[Reply]
June 30th, 2009 at 02:59
subhanallah kuncinya adalah ikhlas.
teman guru SMA bapakadalah orang yang terpilih sekaligus makin diuji. Bagaimana tidak. Al mukarom itu telah menanggalkan rasionya diisi oleh iman yang sangat tinggi. Akal senantiasa membawa kita berfikir ‘logis’ karena harta yang ‘hilang’ sebab disedekahkan malah diganti berlipat ganda. subhanallah. al mukarom itu diuji lagi oleh allah dengan melipatgandakan hartanya. Tujuan semula adalah agar tenang dan tidak terbebani oleh harta dan kenikmatan dunia yang sementara ini. beliau sudah sangat yakin. saya menangis menulis ini. bukan karna sedih karena allah menunjukkan kebesaranNYA dengan menuntun saya membaca postingan bapak/ibu. Dan saya tidak mengerti apa apa tentang hal ini, sungguh karena yang maha mengerti Hanya DIA. Mohon jika bapak berkenan kirim alamat beliau kepada email saya, karna saya ingin berkenalan dan mengetahui nama beliau agar saya dapat mengirimkan salam, semoga rahmat allah tercurahkan kepada kita.
bapak ibu, bisnis adalah keniscayaan dan kebesaran ALLAH juga yang menciptakan perniagaan. Wajib bagi kita berusaha dalam arti ‘mencari’ rizkiNYA yang halal. Mohon maaf kata mencari saya bubuhi tanda kutip karena sebetulnya bukan ‘kita’ yang mencari, siapa yang menggerakkan kita mencari ALLAH juga tentunya. ‘Mencari’ tentunya menggunakan akal dan rasio kita, hitung hitungan yang wajar. Di balik itu kita senantiasa memohon agar hati kita dan akal kita jangan sampai mengalahkan niat kita ‘mencari’ ridhoNYA.
selamat berbisnis dan senantiasa mendekat padaNYA. Semoga kita semua benar benar diberi karunia ‘mengenal”NYA.
wassalam
[Reply]
September 12th, 2009 at 09:13
Subhanallah… saya mau dan ingin melakukan itu, segera.
[Reply]
November 26th, 2009 at 21:26
Subhanallah, luar biasa..jd ingin bertemu dgn orangnya langsung, ingin menuai ilmunya saja…
[Reply]
March 12th, 2010 at 01:29
kisah ini bagus sekali tuk mensuplay hati &otak kita,semoga kita smua disukseskan Alloh SWT.amin
[Reply]
March 28th, 2010 at 18:32
ya Alloh aku iri dengan suami istri dikisah tadi, ya Alloh akupun ingin dekat denganMu ya Alloh
[Reply]
July 19th, 2010 at 14:51
Subhanalloh sangat baik untuk dijadikan inspirasi dalam menggalakan dan mengamalkan sedekah bagi kita semua, sungguh saya sangat ingin bertemu dengan profil mereka, bilakah penulis mengetahui, mohon di informasikan ke saya, semoga ini adalah petunjuk dan harapan saya selama ini, amin2 yaa robbalallamin.mohon dibalas terima kasih.
[Reply]