Saya teringat teman bermain saya waktu kecil jika membahas tentang menanamkan jiwa bisnis sejak dini. Dulu, setiap sore saya dan teman-teman selalu bermain bersama di kampung saya. Sore hari memang waktu yang sangat pas buat anak-anak bermain sampai menjelang maghrib. Tapi hal itu tidak berlaku bagi salah satu teman saya. Dia seorang anak keturunan Cina.

Teman Cina kecil saya tersebut justru bekerja saat kami sedang bermain. Jam kerja dia adalah siang hari sampai menjelang maghrib. Dia bekerja pada orang tuanya sendiri, yaitu bekerja sebagai penunggu toko. Dia dibayar setiap satu minggu sekali dan sekaligus sebagai uang jajan dia selama satu minggu. Jika dia tidak bekerja sehari saja maka uang gaji dia akan terpotong, akibatnya kerkuranglah uang jajan dia.

Dulu, dalam hati saya sempat mengumpat orang tua teman saya tersebut. Alangkah teganya orang tua teman saya ini mempekerjakan anaknya sendiri. Tapi kini, saat saya menulis atikel ini, saya sangat bangga pada orang tua teman Cina kecil saya itu. Alangkah beruntungnya teman saya mempunyai orang tua seperti itu, yang mau menanamkan jiwa bisnis dan kemandirian sejak dini. Akibatnya kini dia menjadi seorang pengusaha yang sukses.

Hal ini bertolak belakang dengan seorang pengusaha tetangga desa istri saya. Dia sangat sukses dalam bisnisnya sebagai pengusaha toko bahan bangunan. tercatat dia sampai memiliki tiga cabang toko bangunan. Mungkin itu dipersiapkan untuk anak-anaknya karena dia mempunyai 2 orang anak. Kesalahan pengusaha satu ini tidak menanamkan jiwa bisnis pada anak-anaknya sejak dini seperti pengusaha Cina tetangga saya.

Anak pengusaha ini tumbuh dengan berlimang kemewahan dan kemudahan yang dia dapatkan. Bergaya hidup mewah adalah keseharian mereka. Akibatnya saat anak-anak pengusaha ini menginjak dewasa dan diberi tanggung jawab memegang kendali beberapa toko bahan bangunan cabang ayahnya, tidak seperti yang diharapkan ayahnya. Dua toko material yang dipegang anaknya tidak ada kemajuan sama sekali, bahkan malah semakin merosot dan bangkrut karena ternyata uang toko dipakai judi dan foya-foya.

Saat sang ayah meninggal, bertambah parahlah kondisi keuangan keluarga ini. Toko menjadi bangkrut dan semua aset dijual. Kini sang istri mendirikan warung di depan rumahnya. Dimasa tuanya sang istri malah hidup sengsara karena ulah anak-anaknya yang tidak pernah dididik mandiri dan diberi pendidikan bisnis sejak dini. Semoga dua kisah di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.

Sukses untuk anda…..