Membatasi Rejeki

Membatasi Rejeki

Rejeki buat kita ada 2 macam, yaitu rejeki yang sudah digariskan dan rejeki yang perlu perjuangan untuk meraihnya. Lebih lanjut bisa membaca artikel saya tentang: jenis rejeki. Bahasan artikel ini cocok dipakai untuk menyoroti tentang rejeki yang perlu perjuangan untuk meraihnya, atau biasa disebut dengan rejeki menggantung di langit. Jenis rejeki kedua ini, harus ada ILMU dan USAHA untuk mendapatkannya. Sudah pasti atas ijinNya tentunya…..

Biar gampang membayangkan, saya ingin menceritakan pengalaman beberapa orang yang saya kenal yang berkaitan dengan membatasi rejeki ini. Biar nggak kelihatan klo teori mulu…dan sesuai dengan tema blog ini; berdasarkan kisah nyata…hehehe. Berikut ini kisah-kisah yang berkaitan dengan membatasi rejeki tanpa kita sadari;

Tidak mau belajar karena merasa pintar

Tahukah Anda? Rejeki antara orang yang berilmu dengan orang yang tak berilmu sudah pasti beda. Allah sudah menjelaskan akan mengangkat derajat orang yang berilmu beberapa derajat, sudah barang tentu rejekinya pasti akan terangkat, betul?

Saat kita merasa paling pintar, paling hebat, adalah saat yang sangat berbahaya. Karena setan akan mudah merusak dan mengeraskan hati kita sehingga kita tidak mau lagi belajar. Kita bagai katak dalam tempurung…merasa hebat padahal sudah tertinggal dari yang lain…..

Tidak mau belajar berarti = tidak mau derajatnya naik, tidak mau jatah rejekinya naik, tidak mau kemudahan dalam meraih kesuksesan. Saya tidak usah ceritakan kisah yang berhubungan dengan hal ini ya, saya yakin kita semua mudah membayangkannya….. 🙂

Tidak berusaha sesuai caranya

Kalau kita jadi guru, lakukan usaha sebagaimana layaknya seorang guru. Kalau kita jadi petani, lakukan usaha sebagaimana layaknya seorang petani. Ini yang sering dilupakan dalam meraih kesuksesan. Kebanyakan kita berusaha meraih kesuksesan, lupa harus seperti apa meraihnya. Alat apa saja yang harus dipakai, ilmu apa saja yang harus dikuasai, dan tahap-tahap seperti apa yang harus kita jalankan, dan kepada siapa kita harus berguru.

Saya ada cerita tentang tema ini. Kebetulan saya kenal seorang karyawan kantor notaris, dan tugas dia adalah mengurusi segala keperluan yang berkaitan dengan surat-surat. Pada suatu ketika, dia mengeluh kalau ingin mempunyai penghasilan sampingan yang hasilnya besar. Akhirnya saya sarankan untuk sekalian menjadi broker rumah/tanah yang dijual. Karena dia tiap hari berurusan dengan orang yang berhubungan dengan rumah dan tanah.

Awalnya dia ragu, tapi keraguan tersebut berbuah menjadi berkah setelah dia menjalankan caranya sebagaimana layaknya seorang broker properti profesional. Bagaimana prosesnya? Dia saya suruh membeli buku-buku tentang broker properti, saya sarankan untuk menjalin silaturahmi dan menimba ilmu pada broker-broker sukses dan berpengalaman. Akhirnya kesuksesan dia dapatkan karena melakukan sesuai caranya, hingga dia keluar dari kantor notaris untuk full menjadi broker properti karena penghasilannya lebih berlipat-lipat dari gaji kantor notaris.

Tidak mau menyambut dan menjemput rejeki

Rejeki itu untuk disambut dan untuk dijemput, agar hasilnya bisa maksimal. Berkaitan dengan rejeki yang menggantung dilangit, Allah itu adil, usaha yang maksimal pasti diberi hasil maksimal. Usaha yang minimal, pasti diberi hasil yang minimal pula.

Saya punya kenalan yang kurang dalam hal menyambut rejeki. Saat awal-awal dia buka usaha, dia menerapkan jam buka tempat usahanya semau dia. Kalau dia bangun pagi, dibuka pagi. Kalau dia malas bangun pagi, ya dibuka siang hari. Setelah lama kelamaan usahanya tambah lesu, akhirnya dia sadar bahwa hasil akan sesuai dengan usaha. Setelah tempat usahanya dibuka dengan disiplin, sesuai jam buka pagi tiap hari, usahanya bisa semakin ramai. Ini yang namanya menjemput dan menyambut rejeki, atau memantaskan diri bahwa kita layak diberi…..

Tidak mau sedekah

Sedekah adalah solusi 1001 masalah. Bahkan sedekah bisa membuka kran rejeki yang tertutup, karena Allah sudah menjanjikannya. Coba anda tengok pengusaha-pengusaha besar di seluruh dunia, tidak ada dari mereka yang pelit. Mereka bahkan menyisihkan dana yang tidak main-main untuk bersedekah. Kalau selama ini Anda malas bayar zakat, infaq, dan sedekah…ada baiknya segera buang jauh-jauh sifat itu. Karena sifat itulah yang bisa menghambat rejeki kita…..

Saya punya banyak cerita tentang keajaiban sedekah ini, salah satunya yang dikisahkan seorang pengusaha besar yang saya kunjungi beberapa tahun lalu. Dulu usaha beliau bagai hidup segan mati tak mau, hasilnya cukup untuk makan sehari-hari. Sampai suatu ketika, ada seorang bayi yatim yang membutuhkan bantuan. Dengan mengucap Bismillah, bayi tersebut dipelihara dengan niat sedekah…walau sebenarnya buat beli susu, dia harus mengorbankan uang belanja.

Tahukah Anda? Semenjak merawat bayi tersebut, usahanya semakin meroket. Semakin dia bersemangat bersedekah untuk keperluan sosial dan pembangunan masjid, semakin meroket terus usahanya. Begitu terus seakan kesuksesan dia berkejaran dengan aksi sedekahnya. Sampai akhirnya usahanya benar-benar besar dan terus besar…..

Tidak mau dekat dengan pemilik rejeki

Kalau yang ini sudah jelas. Gimana Allah mau kasih kita rejeki kalau kita sendiri tidak mau dekat denganNya. Semua tindakan dan usaha akan sia-sia kalau tanpa kehendak dariNya. Kalau dibuat prosentase, kesuksesan yang kita raih itu 1% adalah usaha kita, 99% sisanya adalah kehendakNya.

Allah sudah memberikan kita rumus untuk bisa memperoleh rejeki dan jalan kemudahan. Rumus itu ada pada sedekah, Dhuha, Tahajjud, silaturahmi, dan sholat tepat pada waktunya….. 🙂

Itulah beberapa tindakan kita, yang tanpa kita sadari bisa membatasi rejeki. Artikel ini sebagai pengingat bagi saya sendiri dan semoga bagi kita semua, bahwa untuk meraih cita-cita, ada proses yang harus dilakukan sesuai caranya. Dibalik usaha yang kita lakukan, ada Sang Maha Kuasa sebagai penentu keputusan berhasil atau tidaknya.

Semoga bermanfaat, sukses untuk Anda….. 🙂