peran ibu dalam rumah tangga

peran ibu dalam rumah tangga

Gara-gara sebuah kesalahan fatal yang dilakukan ibuku, akhirnya buyarlah cita-cita yang diidamkan oleh ayah untuk kehidupanku. Itulah kisah yang terjadi dalam keluargaku, semoga dengan saya ungkap kisah ini, bisa menjadi pelajaran buat semua teman-teman yang telah berkeluarga.

Kesalahan fatal ibuku memang berpengaruh sangat besar dalam kehidupanku. Bukan saja merubah cara pandangku akan kehidupan, tapi juga merubah arah hidupku yang melenceng jauh dari keinginan ayahku. Mohon dibaca sampai habis agar tidak salah paham ya, yang berkomentar gak nyambung berarti tidak membaca sampai habis…hehe.

Ayah dan ibuku adalah PNS, dan mereka seperti kebanyakan keluarga lainnya, yaitu ingin dan bangga anaknya kelak jadi PNS. Biar masa depan terjamin karena ada uang pensiun katanya. Jika Anda seumuran saya, pasti sangat paham kondisi saat itu. Menjadi PNS seakan kasta tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat.

Lalu apa kesalahan fatal yang dilakukan ibuku? Nih saya kasih tahu…..

Ibuku adalah seorang pejuang dan penyuka dagang. Setiap pulang kantor pasti ada saja barang dagangan yang dibawa. Entah itu pakaian, makanan, atau apapun yang bisa dijual pada orang kantor atau tetangga sekitar. Dari sinilah kesalahan fatal itu bermula;

Kesalahan fatal pertama – dilibatkan dalam bisnis
Seringkali ibu mengajakku menghitung laba. Pegang uang adalah hal biasa bagi saya saat kecil. Bahkan uang segepok hasil dagang, diselipkan disaku celanaku sampai aku tidur. Secara tidak langsung ibu mengajariku betapa nikmatnya berbisnis dan bisa dapat uang.

Kesalahan fatal kedua – dilatih bekerja dan berjuang
Ibuku memberi uang dibagi dalam 2 jenis. Uang saku sekolah yang diberi secara cuma-cuma, dan uang yang bisa didapat jika bekerja sebelumnya. Misal memijit ayah minimal 15 menit akan dibayar sekian rupiah. Secara tidak langsung ibuku mengajarkan kalau ingin dapat hasil banyak, perbanyaklah usaha dan berjuang.

Kesalahan fatal ketiga – dilatih mencari peluang
Karena gaji ayah dan ibu pas-pasan, akibatnya mereka tidak bisa membelikan mainan bagus seperti teman-teman yang orang tuanya kaya. Ibu menyuruhku memutar otak agar bisa cari uang banyak. Akhirnya ide datang, kebetulan orang tuaku punya usaha sampingan agen koran, jadilah saya jual koran sisa penjual yang tidak habis.

Kesalahan fatal keempat – dilatih menghadapi kegagalan
Karena koran yang saya jual adalah koran sisa penjual yang sudah keliling pagi dan siang hari, koran yang saya jual sore tidak membawa hasil yang memuaskan. Paling laku 2 atau 3 koran saat keliling kampung. Bahkan sering juga tidak laku. Setiap saya mengeluh ibu selalu bilang terus dicoba seminggu lagi, terus seperti itu sampai 2 minggu. Setelah minggu terakhir ibu mengajak bicara saya, bahwa itulah arti sebenarnya berjuang. Ibu bercerita kalau dia juga sering gagal, tapi harus dinikmati. Gagal harus dihadapi dengan senang, karena gagal kata ibu bisa bikin tambah pintar….. 🙂

Kesalahan fatal kelima – dilatih bangkit dari kegagalan
Setelah tidak memikirkan bisnis karena fokus belajar untuk ujian akhir kelas 4, bisnis dimulai lagi saat kelas 5. Akhirnya keberuntungan bertemu pada layang-layang. Ibu menyuruhku jual layang-layang buatanku sendiri. Walau anak kelas 5 SD, tapi saya sudah diberi rahasia oleh kakek cara membuat layangan yang enak dipakai, inilah yang membuat layang-layang buatanku laris manis. Baru bikin beberapa layangan langsung habis, begitu seterusnya…..

Kesalahan fatal keenam – menetapkan target
Karena tahu layanganku laris, ibu memberikan target buat saya. Target-target itu baru saya sadari setelah dewasa, bahwa itu adalah modus ibu agar aku semangat cari uang. Target pertama adalah cari uang untuk beli benang terbaik dan termahal saat itu. Target berikutnya adalah untuk beli mainan idamanku. Target terakhir adalah membeli sepeda BMX yang sedang populer saat itu. Akhirnya saat akhir kelas 6 SD, target mempunyai sepeda BMX terbaik bisa tercapai. Sepeda itu saya pakai selama sekolah SMP sampai lulus.

Karena jiwa bisnis yang tertanam sejak kecil, saat kuliah bisnisku bukan lagi bisnis main-main. Bukan lagi bisnis untuk mengisi waktu luang seperti kebanyakan bisnisnya mahasiswa jaman sekarang. Karena setiap langkah pasti ada target, dan saat target tercapai, akan muncul target lebih besar, begitu seterusnya…..

Itulah kesalahan fatal yang dilakukan ibuku, yang menyebabkan aku tidak mau jadi PNS sesuai keinginan ayahku, bahkan sebenarnya juga keinginan ibuku. Aku lebih memilih menjadi pengusaha, yang telah ditanamkan sejak kecil oleh ibuku…tanpa disengaja….. 🙂