Saya masih ingat betul sekitar 5 tahun yang lalu, saat tetangga sebelah membangun rumah, ada seorang ibu-ibu yang membuat saya sangat bersimpati. Ibu-ibu itu biasa mengirim bahan bangunan ke tempat tetangga saya tersebut. Biasanya dia mengirim pasir atau bata ke tempat tetangga saya. Sebuah kerja keras yang cocok dilakukan oleh seorang laki-laki.

Aktifitas ibu tadi tidak mengundang perhatian saya pada awalnya, karena saya tidak tahu kalau dia seorang wanita. Sampai suatu ketika tetangga saya menceritakan bahwa yang biasa mengirim bahan bangunan tersebut adalah seorang wanita, saya menjadi kaget. Bayangkan, dia menyetir mobil sendirian dan menurunkan bahan bangunan sendirian pula! Kalau anda bertempat tinggal di Bali mungkin terbiasa dengan hal ini, tapi bagi saya hal demikian adalah luar biasa.

Saat itu saya berusaha mengorek keterangan, mengapa dia mau bekerja sedemikian keras. Apakah suaminya meninggal atau sakit sehingga dia mau berkorban melakukan semua itu? Ternyata jawabannya tidak. Ternyata dia bersama sang suami mendirikan toko bahan bangunan yang dia kelola berdua. Ibu tadi mempunyai 2 buah mobil. Satu dibawa suaminya dan satu lagi dibawa dia sendiri. Dia mempunyai 2 orang karyawan. Dengan tujuan ingin segera mempunyai toko yang permanen mereka mau berkorban seperti itu. Suami-istri tersebut tidak segan-segan melakukan pekerjaan berat agar pesanan bisa sampai tepat waktu. Dua orang karyawannya bertugas melakukan pekerjaan yang berat-berat saja. Ini semua mereka lakukan karena pesanan mereka sangat banyak tiap harinya. Harus bekerja keras adalah tekad mereka.

Bagi saya, sebenarnya solusi sederhana ya tambah karyawan, tapi tidak bagi mereka berdua. Mereka ingin melakukan semuanya sendiri. Mereka benar-benar memulai semuanya dari bawah. Mulai punya mobil cuma satu sampai punya mobil dua waktu itu. Anak mereka pun juga dilibatkan dalam pekerjaannya. Anak mereka yang seorang perempuan mereka tugasi sebagai tenaga administrasi sepulang sekolah. Mereka ingin menularkan pada anaknya kemauan untuk bekerja keras mencapai tujuan.

Sewaktu saya ngobrol dengan mereka berdua memang terbersik sebuah cita-cita kuat dalam jiwa mereka. Mereka ingin mempunyai toko bahan bangunan yang besar. Mereka bersedia menghemat segala yang bisa dihemat agar uang tabungan mereka segera cukup untuk membangun bangunan permanen untuk toko mereka. Waktu itu mereka tidak mempunyai bangunan permanen. Mereka hanya memiliki sebidang tanah di pinggir jalan yang dipakai untuk menempatkan pasir dan bata serta beberapa bahan bangunan lainnya. Menyadari besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mewujudkan keinginan mereka tersebut, bekerja keras adalah solusi satu-satunya bagi mereka.

Kini, setelah 5 tahun berlalu cita-cita dan buah kerja keras mereka telah terwujud. Bangunan yang cukup megah telah berdiri di lahan yang mereka miliki. Lahan bagian depan dipakai untuk toko sedang lahan belakang dipakai untuk meletakkan bahan-bahan material. Kini, sang ibu tadi tidak perlu lagi menyetir mobil sendiri untuk mengantar bahan bangunan. Kini tugas ibu tadi hanya menjaga toko bersama anaknya. Pakaian ibu tadi juga berbeda dengan yang saya lihat 5 tahun lalu. Jika dulu pakaian ibu tadi lusuh dan kotor karena harus menurunkan bahan bangunan, kini pakaian ibu tadi kelihatan bersih dan rapi. Semua pekerjaan pengiriman kini dilakukan oleh sang suami dan beberapa pekerja mereka yang lain. Ini adalah sebuah contoh nyata kerja keras bagi saya. Semoga kisah ini menjadi tauladan bagi kita.

Sukses untuk anda…..