Saat saya melakukan pencarian di Google kemarin saya agak terkejut dengan hasil pencarian dengan judul ‘Cosa Aranda Penipu’. Langsung deh saya klik apa sebenarnya yang dialami oleh pemilik blog sampai dia posting demikian.
Sepengetahuan saya, Cosa Aranda yang dikatakan penipu itu adalah sosok seorang yang punya komitmen bagus di dunia internet marketing Indonesia. Komitmen dia untuk membantu para pemula di dunia bisnis online patut diacungi jempol.
Dari posting pemilik blog, sepertinya dia kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh produk yang dijual Cosa Aranda. Lebih tepatnya kecewa karena produk yang diinginkan tidak kunjung diperoleh walau sampai beberapa kali email dia kirimkan. Karena emosi akhirnya dibuatlah artikel tentang Cosa Aranda penipu itu. Ingin lihat kejadiannya
silahkan klik link ini: http://cosaaranda.com/cosa-aranda-penipu.html
Saya sendiri pernah agak kecewa dengan paid review milik dia, saya sudah mengajukan blog saya untuk mengikuti tapi tidak kunjung ada konfirmasi sampai dua minggu lebih. Padahal yang tertulis di situ maksimal 72 jam (klo nggak salah) dan kalau tidak ada konfirmasi disuruh menghubungi. Saat saya kirim pesan juga tidak ada balasan. Jadi saya tidak bisa tahu, blog saya ini diterima atau ditolak. Bahkan sampai sekarang layanan paid reviewnya juga belum online karena ada pemindahan server sejak 1 Januari kemarin.
Kalau saya emosi tentu saya akan bilang kurang profesional, nggak pecus mengurus bisnis, atau kata-kata Cosa Aranda penipu. Tapi karena saya memandang dia sebagai seorang yang baik, dan saya juga tidak punya kepentingan apa-apa, ya… biar aja. Paling-paling dia lagi liburan sehingga bisnisnya tidak ada yang mengurusi…
Dalam bisnis, konsumen itu bersifat EGOIS. Itu yang harus dipahami pemilik bisnis. Kenapa konsumen EGOIS? Jelas dong khan mereka sudah mengeluaran uang. Jika sampai mengecewakan konsumen berarti penghasilan kita akan terancam, karena saat satu orang konsumen kecewa, dia akan cerita pada 30 orang temannya. Bagaimana jika 100 orang yang kecewa? Dan bagaimana jika kekecewaan itu disharing di internet dan berada di top 10 Google?
Kesalahpaaman yang terjadi dengan klien, berdasarkan pengalaman saya selama puluhan tahun bergerak di dunia bisnis, bisa terjadi karena beberapa faktor. Bisa karena kelalaian kita, kelalaian karyawan kita, atau karena konsumen sendiri memang orangnya aneh
Saya pernah hampir berkelahi dengan pelanggan saya sekitar 7 tahun yang lalu. Untung orang-orang di sekitar toko komputer saya banyak yang memisah sehingga tidak sampai terjadi kontak fisik. Itulah kesalahan terbesar saya dalam berbisnis, kurang memahami karakter pelanggan yang EGOIS tadi. Walaupun sebenarnya jika dirunut itu adalah kesalahan dia, tapi kita harus tetap tebal hati untuk memberi yang terbaik bagi pelanggan. Karena disinilah inti bisnis, sebagai pebisnis kita adalah pelayan.
Saya tidak tahu apakah Cosa Aranda mempunyai karyawan untuk mengurusi layanan miliknya. Jika mempunyai karyawan mungkin tidak akan terjadi seperti itu, atau mungkin manajemen yang diterapkan pada karyawannya kurang bagus. Atau mungkin juga pada dasarnya si korban sebelumnya memang tidak senang dengan Cosa Aranda
Dalam kejadian ini saya bisa menarik sebuah kesimpulan, bahwa seorang sukses di bisnis online harus perlu belajar lebih banyak lagi jika ingin merambah di real bisnis. Bisnis online bisa digerakkan hanya dengan jari-jari dan mouse kita, tapi real bisnis (layanan paid review dan jualan produk Cosa Aranda) yang langsung berhubungan dengan manusia, memerlukan banyak elemen dan kemampuan ekstra untuk menjalankannya.
Sebagai sesama pelaku bisnis online, dan tahu betul kualitas seorang Cosa Aranda, saya yakin kejadian ini bisa membuat Cosa Aranda menjadi lebih baik lagi. Doa saya selalu menyertai Cosa Aranda dan semua teman-teman yang komitmen memajukan internet marketing Indonesia. Semoga kesuksesan selalu bersama kita semua….Amin.
Tags: Cosa Aranda, Cosa Aranda Penipu, Penipuan Cosa Aranda
|
|
16 Responses to “Cosa Aranda Penipu, Betulkah?”
Leave a Reply
|
|



January 11th, 2010 at 19:13
Saya terkesan pada sikap Anda yang melihat kejadian ini yang memandang Cosa Aranda dari prespektif positif
[Reply]
January 11th, 2010 at 19:18
bagus juga tuh tulisan boleh tuh di copy paste
[Reply]
January 11th, 2010 at 19:58
Saya pikir kita harus melihat per kasus dalam hal ini.
Contoh kasus nyata yang pernah saya baca maupun saya alami sendiri:
1. Konsumen egois yang menggunakan handphonenya di dalam pesawat terbang sementara pesawat akan take-off. Orang tersebut akhirnya diusir dari pesawat dan dibawa ke polisi untuk ditindak lebih lanjut.
2. Konsumen egois yang merokok di tempat makan yang jelas-jelas “Non-Smoking Area”.
3. Konsumen egois di bioskop yang meletakkan kakinya di atas kepala kursi penonton yang berada dibawahnya.
4. Konsumen egois yang makan durian, jengkol di dalam bus travel yang tidak semua orang sanggup mencium aromanya.
5. Konsumen egois yang mengatakan :” Gapapa lah jual rugi ke saya kali ini. Nanti saya kan bakal belanja lagi di sini.”
“Merasa sudah keluar uang” tidak bisa dijadikan alasan konsumen boleh egois. Kalau memang bisa dijadikan alasan, tidak heran ada orang yang berkata: “saya boleh buang sampah sembarangan, sesuka-suka saya, karena saya sudah bayar pajak. Kan pemerintah membiayai tukang sampah dari pajak yang saya bayarkan.”
Konsumen sebagai raja hendaknya dilihat secara seimbang. Sepatutnya konsumen egois tidak dibiarkan atau ditoleransi. Bagaimanapun, konsumen harus mengikuti aturan main dan etika yang berlaku. Ketika konsumen egois tersebut tidak mengindahkan aturan dan etika, maka dia tidak pantas lagi menjadi raja.
Raja bisa dikudeta oleh rakyatnya kalau raja tersebut lalim atau jahat. Konsumen harus paham bahwa sebagai raja, itu tidak menjadikan dia boleh semena-mena.
Kita sebagai pelaku bisnis, sebagai rakyat bagi raja-raja tersebut, kita punya kekuatan yang sama dengan konsumen, dan kita juga punya hak yang sama dengan konsumen. Karena baik kita maupun konsumen sama-sama membutuhkan. Raja tanpa rakyat bukan raja. Dan rakyat butuh pemimpin.
Yang terpenting di sini adalah bagaimana kita mengatasi konsumen semacam itu. Apakah dengan kepala dingin seperti dialog rakyat dengan raja atau dengan tangan terkepal seperti rakyat menyerbu dan membuat kerusuhan sebagai tanda kemarahan pada raja? Raja yang keterlaluan akan mengalami kemarahan rakyat seperti peristiwa Menara Bastille di Perancis, ketika dialog dan toleransi sudah tidak mungkin lagi.
Intinya : Istilah “konsumen adalah raja” sering menjadi slogan yang tidak dipahami dengan seimbang sehingga hanya menjadi momok yang merugikan pihak produsen. Yang lebih parah, banyak orang yang belum mengeluarkan uang / belum membeli, tetapi sudah berlagak menjadi raja. Mencoba semua sepatu yang ada, tapi kemudian setelah sangat merepotkan si penjual sepatu, “calon konsumen” ini langsung saja pergi, karena memang dari semula tidak berniat untuk membeli. Saya katakan “calon konsumen” karena belum membeli, seharusnya belum menjadi konsumen atau menjadi raja.
Saya tidak pernah takut kalau ada konsumen yang menjelek-jelekan saya, kalau saya memang tidak melakukan kesalahan apapun.
Saya bisa tidak takut kalau saya tahu pasti bahwa konsumen yang menjelek-jelekan saya tersebut bukan karena kelalaian saya, tetapi memang karena watak buruk dan ketidaketisan dari konsumen yang bersangkutan. Karena pada akhirnya siapa yang bisa dipercaya, siapa yang benar akan terlihat dengan sendirinya oleh pihak ketiga / orang lain, dan kalau sudah demikian, justru yang akan muncul nantinya adalah konsumen-konsumen yang akan membela saya melawan konsumen yang tidak benar tersebut.
Yang harus dipikirkan adalah bagaimana konsumen bisa mendapatkan edukasi etika menjadi konsumen. Salah satunya lewat pembangunan dan pendidikan akhlak moral seseorang dari sejak bangku sekolah, yang adalah fokus utama dari Depdiknas dalam pendidikan di sekolah, tetapi yang banyak diabaikan (karena sekolah terlalu fokus pada sisi ilmu).
[Reply]
January 11th, 2010 at 20:02
kelemahan bisnis online salah satunya adalah kepercayaan, dalam transper uang dan produk , hanya lihat di gambar , akhirnya berujung pada kepuasan konsumen, yang kecewa tidak sesuai yg di harapkan.saran saya tingkatkan pelayanan / service.
[Reply]
January 11th, 2010 at 23:22
Bisnis adalah hasil kerja putar otak dari si pemilik bisnis tersebut.
Bisnisnya menjadi maju atau mendapat cercaan itu memang sudah seharusnya.
Tinggal tergantung pemikiran si pemilik bisnis itu saja……bagaimana menanggapi cercaan….apa itu sepadan dengan bisnisnya?
Tempatkan setiap masalah secara perspektip.
Masalah akan selalu ada……ada reaksi positip…..ada reaksi negatip
[Reply]
January 11th, 2010 at 23:39
positif…
[Reply]
January 12th, 2010 at 02:56
*manggut-manggut*
Salut Pak Eko, mari berpositif thinking…
[Reply]
January 12th, 2010 at 04:02
tepat sekali langkah anda. sedetik hari ini membangun masa depan. sekali kita melakukan kesalahan, maka akan berdampak pada masa depan kita.
[Reply]
January 14th, 2010 at 06:48
betul mazz tak ada gading yg retak.. tapi patah.. hehe pis…
[Reply]
January 22nd, 2010 at 09:20
betul betul betul…..Tidak ada gading yang tak retak….
[Reply]
January 24th, 2010 at 16:35
emang konsumen cem-macem, ada yang bae da yang biasa biasa aja tp gak sedikit yang rese.
[Reply]
February 4th, 2010 at 17:27
wah dunia internet memang menarik ya,penuh kritik tajam dan pedas…
tetapi dalam kasus kali ini seperti tulisan diatas adalah bentuk kelalaian dari yang empunya bisnis kenapa cuex terhadap klien yang sudah tertarik dan rela untuk mengeluarkan dananya untuk transaksi online,namanya juga klien merasa sudah membayar yah barang tentu dia akan nuntut haknya ,nah tinggal yang empunya bisnis deh mentuntaskan kewajibanya.
saya rasa jika memahami apa itu kepuasan konsumen kasus tersebut dapat dihindari.tinggal pintar-pintarnya kita untuk menjaga nama dan membuat puas klien kita jangan sampai kabur apalagi dengan effect yang sudah barang tentu ujung-ujungnya dapat merugikan bisnis yang sudah dibangun susah payah.
[Reply]
February 8th, 2010 at 16:39
oke pak eko, pengalaman yang baru buatku pak, thanx
[Reply]
February 21st, 2010 at 15:42
Menurut saya sendiri, yang sering di keluhkan teman teman saya tentang cosa adalah pada layanan supportnya. Lambat merespon bahkan tidak pernah di respon sama sekali. Ya itu, mungkin karena sibuk atau lagi liburan.
[Reply]
May 19th, 2010 at 12:01
cuma Tuhan yang tahu kebenarannya mas.
makasih udah sharing infonya.
[Reply]
May 29th, 2010 at 22:28
kadang sipenjual jg ndak mau rugi sih…sy pernah beli e book dan dikasih bonus lagi….karna sayanya masih awam jadinya kan ndak bisa di donlot….akhirnya kirim email kesana minta caranya, ee katanya donlot aja tanpa dikasi penjelasan gimana caranya….saya coba terus ndak bisa ..akhirnya sy kasih komentar bukan kedia tp diemail sy sendri..ngoomong kalo blom ketipu blom sah main internetan..ehh dia kesinggung..baru ngasih tau caranya…ya saya minta maaflah
[Reply]